Kurikulum, Sudah Jadi Apa Belum?

Written By Asep Irwan on Sunday, 9 March 2014 | 21:34

Sumber Gambar : google.com
Saat ini, banyak sekali pertanyaan yang kemudian menghinggapi para guru tentang kurikulum terbaru 2013. Kebetulan sekolah tempat saya berkarir ikut menerapkan kurikulum yang katanya berpedoman pada pendekatan scientific ini. Sebenarnya saya sudah mulai curiga ketika pertama kali kurikulum ini disosialisasikan untuk segera diterapkan tahun 2013. MENDADAK!! Mungkin kata ini bisa mewakili pemikiran awal saya dari kecurigaan itu. Lambat laun, ketika seminar demi seminar, pelatihan demi pelatihan saya ikuti, terbuktilah persangkaan saya. Kurikulum ini terlalu mendadak alias prematur untuk diterapkan.

Banyak hal yang bisa kita jadikan acuan untuk mengatakan kurikulum ini terlalu mendadak untuk diterapkan. Mungkin teman – teman guru lain juga sudah bisa melihatnya. Pertama dan yang paling mendasar adalah perihal ketersediaan buku paket. Sejak pertama kali kurikulum ini dilaunching awal tahun ajaran baru bulan Juni 2013 – 2014, saya baru mendapat buku paket itu bulan September 2013, itu pun masih berupa e-book (electronic book). Efeknya, saya kelabakan sendiri dikelas, karena disatu sisi guru ada tuntutan untuk menerapkan kurikulum, tapi dilain sisi siswa belum mendapatkan buku paket. Meski saat ini seluruh siswa sudah memilikinya, walau hanya dalam bentu print-out hitam putih, menurut saya pemerintah dalam hal ini bisa dikatakan tak sigap dengan instruksinya sendiri.

Catatan kedua saya adalah tentu tentang penerapan kurikulum itu sendiri. Karena kurikulum ini benar – benar berbeda dengan kurikulum sebelumnya, maka banyak hal baru yang harus dipelajari guru sebagai orang dilapangan. Memang kemudian pemerintah memberikan seminar dan pelatihan kurikulum, tapi menurut saya pelatihannya terlalu mendadak, terlalu singkat dan tidak maksimal. Pelatihan kurikulum yang saya ikuti selama ini tidak efektif karena diadakan ketika KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) sekolah sudah dimulai pada tahun ajaran 2013 – 2014. Dampaknya adalah di kelas siswa terlantar, banyak jam kosong, karena banyaknya guru yang mengikuti pelatihan.

Ketiga adalah tentang sistem evaluasi. Banyak sekali guru yang binggung untuk menilai siswa dengan metode baru ini. Banyak item yang harus dinilai, dari penilaian kognitif, sikap, dan keterampilan. Satu penilaian lagi yang sampai saat ini saya masih tak habis pikir adalah penilaian spiritual. Bagaimana bisa orang diukur tingkat keimanan dan ketakwaannya. Apakah dengan melihat siswa itu rajin shalat sudah bisa dikatakan spiritualnya baik? Menurut saya, keimanan dan ketakwaan seseorang itu tidak bisa dinilai hanya dengan tingkat ibadahnya saja. Apalagi teknik pengamatan itu hanya dilakukan disekolah saja. Kalau mungkin kita lihat seorang siswa rajin sholat di sekolah, apakah anda bisa jamin siswa ini juga akan sholat di rumahnya. Selain faktor ibadah, banyak hal yang bisa dijadikan acuan tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang. Kalau dalam ilmu fikih, ada namanya ibadah mahdhoh ada ibadah mualamah, nah, ibadah mualamah juga menentukan keimanan dan ketakawaan seseorang. Bukankah ada hadis yang mengatakan bahwa kebersihan itu sebagian dari pada iman. Ini salah satu buktinya.

Selain rubrik penilaian, satu hal lagi yang bisa menggenapkan bukti prematurnya kurikulum ini adalah kejadian saat para wali kelas kebingungan ketika akan mengisi raport. Format raport dikurikulum 2013 memang sangat berbeda dengan raport terdahulu. Dari pengalaman saya mengikuti diklat dan pelatihan kurikulum, saya memang tidak mendapati pemateri menjelaskan teknik pengisian raport, mereka hanya menjelaskan bahwa raport kurikulum 2013 akan berbeda dengan raport kurikulum KTSP. Jadi, menurut saya, sangat wajar jika saat pengisian raport semester satu saat itu cukup crowded. Minimnya sosialisasi harus menjadi pelajaran buat pemerintah.

Saya bukan orang yang anti terhadap kurikulum ini. Saya melihat sebenarnya ada banyak hal positif dari konten kurikulum yang baru ini. Namun yang saya amat sayangkan adalah proses penerapannya saja yang terlampau agak gegabah, terburu – buru dan mendadak. Sepertinya pemerintah sekarang harus melakukan kajian ulang dan koreksi disegala lini. Melakukan survei dan pengamatan lapangan mungkin bisa dilakukan dari sekarang. Lakukan pendekatan dengan semua penggerak pendidikan yang ada, lakukan koordinasi dan evaluasi. Sebelum bunga yang harum itu rusak tertusuk jarum lalu menjadi alum, jangan sampai nanti semua orang mengatakan, ini kurikulum, sudah jadi apa belum??

Rawa Belong, 9 Maret 2014

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Kurikulum, Sudah Jadi Apa Belum? yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 21:34

2 komentar:

  1. nah bener banget, kurikulum yang baru ini membuat terlalu seringnya jam kosong karena memang siswa dituntut untuk belajar sendiri dan lebih mandiri.

    ReplyDelete
  2. @Maz Reyza : ini memang yg perlu dikaji ulang pemerintah,, masih banyak masalah

    ReplyDelete