Tentang Sebuah Kepantasan

Written By Asep Irwan on Monday, 16 December 2013 | 23:31

“Hidup itu bukan sekedar benar atau salah tapi ada pantas atau tidak pantas, itu namanya estetika”. Itulah Quote yang akhir – akhir ini selalu menggiring saya pada sebuah pemikiran baru. Quote ini sendiri saya dengar dari seorang cendekiawan Emha Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan Cak Nun. Menurut beliau, Indonesia saat ini sudah kehilangan yang namanya estetika atau keindahan. Padahal keindahan itu sendiri adalah puncak dari sebuah kebenaran. Dan karena hilangnya keindahan inilah Indonesia sekarang mengalami keterpurukan.

Kepantasan dan keindahan itu sangat penting, bahkan lebih penting dari sebuah kebenaran dan kebaikan. Jika ada tamu datang berkunjung ke rumah anda lalu anda persilahkan masuk dan duduk itu namanya kebenaran. Setalah tamu itu duduk lalu anda menyuguhkan minuman itu namanya kebaikan. Namun jika anda kemudian menyapa tamu itu dengan muka jutek dan cemberut, semuanya jadi sia – sia. Cemberut dan jutek tadi itu namanya tidak indah. Sederhana tapi penting, kecil tapi bermakna. Seperti juga pada shalat. Ketika kita berniat shalat, kita sudah memperoleh nilai kebaikan. Lalu kita ikuti syarat dan rukun shalat, itu bernilai kebenaran. Dan jika kita mau khusyu itu namanya indah. Shalat itu artinya kita berkomunikasi dengan Allah. Dan jika kita sedang berkomunikasi, apa etis atau sopan kalau pandangan dan pikiran kita tidak terfokus pada yang kita ajak komunikasi dalam hal ini Allah. Disinilah arti pentingnya khusyuk dalam shalat.


Banyak sekali cerita tentang Indonesia yang saat ini kehilangan keindahannya. Bahkan kalau kita lebih jeli dan teliti, kita bisa membuktikannya setiap hari lewat media massa. Ambilah contoh bagaimana para wakil rakyat kita dengan tetek bengeknya. Para intektual kita yang ternyata masih bersikap kekanak-kanakan, dan dunia hiburan yang mempertontonkan hal – hal yang tak pantas. Kasus terakhir adalah bagaimana konyolnya pimpinan tertinggi negara kita yang mengincar posisi wakil presiden di pemilu 2014. Emang nggak boleh? Ya boleh sih, sampai saat ini juga belum ada undang – undang yang melarang presiden nyalon jadi wakil presiden. Tapi pertanyaan saya adalah apa pantas presiden yang akan turun tahta terus nyalonin jabatan yang dulu jadi bawahannya. Dimana – mana, setau saya, tidak pernah ada dalam sejarah, raja yang turun tahta terus ingin jadi patih. Yang ada adalah raja setelah lengser keprabon (turun tahta) itu akan jadi pandhita (petapa), seorang yang mendekatkan diri pada Tuhan dan menjauhkan diri dari hingar bingar dunia.

Sepertinya presiden kita kali ini punya muka tembok, sudah tak punya malu dan harga diri. Menyedihkan. Orang tuh kalau sudah jadi ketua pembina partai mana mau ambil jabatan yang lebih rendah dari itu. Tapi nyatanya, ia ambil juga posisi ketua umum. Kalo bukan orang maruk, terus mau dibilang apa. Saya bukan orang anti atau yang benci presiden ini. Justru saya sebenarnya merasa kasihan dengan beliau. Ya kok mau - maunya disuruh – suruh bawahannya untuk kerja dobel. Dimana – mana, setau saya, pemimpin itu akan mencari orang sebagai kaki tangannya agar pekerjaannya dibantu dan lebih ringan. Ini kan presiden kita malah nyari – nyari kerjaan nggak penting yang sebenarnya bisa diserahkan ke orang lain. Atau jangan – jangan memang presiden kita ini kurang kerjaan hingga cari kerjaan bawahannya? Ya mungkin hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Ya sudahlah, pada akhirnya kita jadikan perkara – perkara konyol di negeri ini sebagai lelucon dan bahan tertawaan aja lah. Lumayan buat hiburan cuma – cuma. Mereka itu sudah punya dunia sendiri yang tak perlu kita ganggu. Kita tak perlu ikutan pekok. Kasihan mereka. Kita doakan saja mereka agar mereka cepat ditunjukkan hidayah dan jalan sebenarnya oleh Tuhan. Amiin

Rawabelong, 16 Desember 2013
@asepsandro_del

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Tentang Sebuah Kepantasan yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 23:31

0 komentar:

Post a Comment