Mengejar Cita Di Negeri Antah Berantah (Part 2)

Written By Asep Irwan on Saturday, 14 December 2013 | 09:26

Sumber gambar : google
Berangkatlah Cak Sandro menuju stasiun untuk naik kereta api ekonomi. Satu – satunya moda transportasi yang bisa dijangkau oleh isi dompet Cak Sandro. Bapak dan Ibu Cak Sandro yang mengantar sampai stasiun mendoakan Cak Sandro sebelum kereta benar – benar membawa Cak Sandro menuju kehidupan baru di kota besar yang tak pernah disangka-sangkanya.

Penumpang kereta saat itu sangat penuh. Tak ada ruang buat Cak Sandro untuk duduk. Berdiri dekat bordes kereta sepertinya menjadi pilihan terakhir buatnya. Lalu lalang pedagang semakin membuat sesak kereta. Udara panas nan sumuk pun mulai mendera Cak Sandro. Bau badan yang baru saja wangi sabun itu kini seketika sudah menjadi bau tak karuan. Aroma keringat bercampur semerbak toilet kereta dan jajanan pun telah bersatu menjadi satu kesatuan. “Bhinneka Tunggal Ika, meski berbeda-beda aroma yang penting satu jua” gumam Cak Sandro.

Tak terasa empat jam Cak Sandro berdiri, kereta sudah tiba di kota Surabaya. Banyak penumpang yang turun di kota ini. Keadaan gerbong mulai agak lega. Maksud hati lirik kanan kiri gerbong untuk mencari kursi kosong, Cak Sandro malah dikejutkan oleh suara ketukan pintu kereta yang masih tertutup. Seorang wanita setengah baya dengan seorang anak kecil yang sepertinya ingin masuk kereta meminta tolong untuk dibukakan pintu. Seorang pemuda tepat disamping pintu langsung membukakan pintu. Karena banyaknya barang – barang yang dibawa oleh wanita tadi Cak Sandro pun membantu menaikkan beberapa tas besar milik ibu itu kedalam kereta.

Beberapa penumpang baru dari Surabaya masuk dengan terburu – buru dari pintu sebelah yang terbuka. Seketika kereta ekonomi jurusan Purwokerto menjadi sesak lagi. Karena sudah tak tahan berdiri terus, Cak Sandro pun duduk sekenanya di sela – sela depan pintu bordes. Ibu – ibu yang ternyata sudah tak mendapatkan tempat duduk itu akhirnya ikut duduk selonjor bersama disebelah Cak Sandro.

“Makasih ya mas tadi bantuannya” ucap Ibu itu
“Ya, sama – sama ibu” jawab Cak Sandro
“Mau pergi kemana mas” tanya Ibu itu
“Ke Jakarta bu” Jawab Cak Sandro
“Wah jauh juga perginya ya.” balas ibu itu
“Di sana kerja mas” tanya ibu itu lagi
“Nyari kerja bu” Jawab Cak Sandro
“Jauh banget mas nyari kerja sampai Jakarta” ungkap ibu tadi
“Yah, mau bagaimana lagi bu, di kampung sudah mentok usahanya, kebutuhan sudah mendesak” Jawab Cak Sandro
“Gitu ya, ya ibu sih cuma bisa doain masnya biar cepet dapet kerja di sana nanti biar kebutuhannya bisa segera dipenuhi” tutur Ibu tadi
“Amin, makasi bu, ibu sendiri mau kemana?” balas Cak Sandro
“Saya sih deket aja, ke Jogja mas” jawab ibu tadi
“o... ke Jogja. Harus hati – hati bu kalo pergi naik kereta penuh sesak gini bu. Banyak copet” tutur Cak sandro
“Iya mas, memang harus hati – hati” balas ibu tadi

Tak lama kemudian Ibu Cak Sandro menelepon
“Assalamualaikum” Ibu Cak Sandro menyapa
“Wa’alaikum salam bu” Jawab Cak Sandro
“Ndro, udah sampai mana kamu?” Tanya Ibu Cak Sandro
“Ini baru sampai Mojokerto bu” Jawab Cak Sandro
“Hati – hati ya Ndro diperjalanan. Tak doain sama ibu disini biar kamu lancar dan sukses di Jakarta nanti ya” tutur Ibu Cak Sandro
“Amiin bu, Sandro pasti hati – hati kok dan pasti selalu inget nasehat – nasehat ibu di kampung” jawab Cak Sandro

Tak disangka - sangka, sebait do’a dari kedua ibu tadi pada akhirnya akan menjadi penentu jalan hidup Cak Sandro di kota metropolitan terbesar di Indonesia itu. (Bersambung ...)

Rawabelong, 14 Desember 2013
@asepsandro_del

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Mengejar Cita Di Negeri Antah Berantah (Part 2) yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 09:26

0 komentar:

Post a Comment