Merdeka Untuk "Merdesa"

Written By Asep Irwan on Saturday, 24 August 2013 | 13:04

Hari kemerdekaan 17 Agustus telah tiba. Semua orang di kampung merayakannya dengan berbagai lomba dan kegiatan. Tak terkecuali dengan anak-anak mbelgendes. Sehari sebelum tanggal jadi Republik Indonesia itu, mereka membuat nasi tumpeng untuk bari’an sebagai tanda syukur atas kemerdekaan yang telah ada. Dalam keheningan prosesi syukuran itu, tiba- tiba Cak Sandro datang ke markas klub mbelgendes dengan pekik ke-“merdesa”-an yang mengagetkan semua yang ada waktu itu.

Merdesa!! Merdesa!! Merdesa!! Pekik Cak Sandro. Cak Pedro yang kaget sontak menegur Cak Sandro dengan cukup keras. “Woi berisik woi”. Cak Diego pun ikutan merespon. “Woi, Merdesa Ndasmu kui”. Baru tau kalau anak – anak mbelgendes sedang khusyu menjalankan ritual, Cak Sandro pun balik badan dan berjalan berputar arah menjauhi markas sambil tetap mengucapkan pekik ke”merdesa”annya. Suara pekiknya lama – lama mengecil dari jangkauan anak – anak mbelgendes dan akhirnya hilang ditelan kensunyian kampung.

Setelah acara syukuran selesai. Cak Sandro ditanya banyak orang tentang kata – kata “merdesa” yang diucapkannya. Dro, merdesa tuh apa maksudnya? Lidah kamu keseleo ya ampe nggak bisa bilang merdeka? Tanya Cak Berto. Bukan keseleo, enak aja. Merdeka ama merdesa tuh beda. Jawab Cak Sandro. Sudah 68 tahun negara ini merdeka, katanya. Kemudian banyak yang bertanya apakah negara ini sudah benar – benar merdeka?. Banyak yang menjawab jika negara ini belum merdeka. Namun, terlepas dari apakah negara ini sudah merdeka atau belum, ada satu hal yang lebih urgent atau krusial dari hanya sekadar merdeka. Cak Sandro memulai obrolannya.

Sekarang coba kalian bayangkan. Indonesia adalah salah satu negara tersubur di dunia. Negara yang kaya raya sehingga bangsa – bangsa Eropa dulu datang karena terkesima dengan rempah – rempahnya. Merdesa adalah keadaan untuk hidup layak dan patut dari kewajaran kehidupan yang ada. Negara yang kaya seperti itu apa mungkin rakyatnya kelaparan, miskin dan kesusahan? Tidak masuk akal keadaan itu terjadi, seharusnya. Negara ini mungkin sudah merdeka, tapi yang jelas negara ini belum “merdesa”. Tegas Cak Sandro.

Jangan terbelenggu atau terkungkung oleh pemahaman tentang merdeka dan kemerdekaan. Hakikat kemerdekaan sesungguhnya adalah ke”merdesa”an. 68 tahun sebenarnya waktu yang terlambat untuk mengatakan saatnya untuk “merdesa”. Tapi apa boleh buat, yang jelas hakikat dan pekik ke”merdesa”an harus tetap didengungkan. Setidaknya kita tidak lagi terperangkap oleh jebakan makna kemerdekaan saat hari dirgahayu itu. Percuma merdeka kalau tidak “merdesa”. Sia – sia jika bisa hidup bebas tapi sengsara. Kebangkitan tidak harus dimulai dari membangun keadaan fisik yang ada. Membebaskan akal dan fikiran dari belenggu kekakuan definisi bisa jadi merupakan cikal bakal kebangkitan yang sejati. “Merdesa” merupakan awal dari memerdekakan akal dan fikiran tersebut. “Merdesa” ialah cita – cita yang harus dicapai semua negara yang telah katanya merdeka. “Merdesa” adalah puncak kemerdekaan yang musti digapai dan diwujudkan. Cak Sandro pun menyelesaikan pidato kenegaraannya.

Tak lama setelah uraian Cak Sandro berakhir, semua audien tanpa dikomando dengan serentak berdiri dan mengepalkan tangan keatas seraya berkata : “Merdesa”!!! “Merdesa”!! “Merdesa”!!!

Rawabelong, 24 Agustus 2013

@asepsandro_del

*bari'an = tradisi menyambut peristiwa tertentu di Jawa Timur (khususnya) sebagai tanda syukur kepada Tuhan YME.

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Merdeka Untuk "Merdesa" yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 13:04

0 komentar:

Post a Comment