Maaf, Kami Hanya Mengikuti Alur Kehidupan (Refleksi Arus Balik Mudik Lebaran)

Written By Asep Irwan on Sunday, 11 August 2013 | 14:11

Sekarang ini banyak sekali pemberitahuan dari pemerintah atau sekadar curhatan penduduk lokal yang menyatakan bahwa kalau ke Jakarta lagi jangan bawa – bawa saudara dari kampung. Kata pemerintah, jangan ke Jakarta tanpa keterampilan yang memadai. Jakarta sudah penuh sesak dan macet. Lebih baik di kampung saja, mengembangkan daerah masing – masing.

Saya sendiri sebagai warga pendatang di Jakarta sejak tahun 2009 mungkin bisa mewakili orang – orang pendatang yang sependapat dengan saya. Menurut saya, semua orang dan terlebih pemerintah tak punya sedikitpun hak untuk menghalang – halangi penduduk yang melakukan urbanisasi.

Ada satu pertanyaan mendasar yang seharusnya dijawab dan mungkin bisa kita renungi bersama tentang fenomena arus balik lebaran ini. Pertanyaan tersebut adalah mengapa terjadi arus balik? Apa sebabnya? Ya, menurut saya, semua kejadian atau peristiwa pasti memiliki sebab atau asal muasalnya. Seperti peribahasa mengatakan tak ada asap kalau tak ada api. Maka yang seharusnya dipahami bersama dalam kasus ini adalah sebab terjadinya arus balik lebaran itu sendiri.

Menurut saya, faktor dominan yang menyebabkan arus balik lebaran adalah terjadinya kesenjangan pusat dan daerah. Tidak meratanya pembangunan dan ekonomi di daerah merupakan biang kerok meningkatnya urbanisasi di Indonesia. Sejak era orde baru, urbanisasi memang menjadi masalah cukup pelik bagi Indonesia. Dan semakin tahun kesenjangan pusat dan daerah semakin mengkhawatirkan. Membangun dan memajukan daerah saya pikir merupakan salah satu solusi harga mati untuk mengatasi problematika migrasi ini.

Sebagai pendatang, saya bukan tidak mau untuk kembali ke daerah. Saya sangat mau, Saya sangat cinta kampung halaman sendiri. Kalau pun ada pekerjaan dengan gaji yang sama dengan di Jakarta, tanpa banyak cingcong, saya pasti kembali ke kampung. Sebenarnya kedatangan saya ke Jakarta juga karena terdesak. Bukan karena impian atau cita – cita, tapi lebih karena pilihan terakhir untuk menyambung hidup, mengikuti alur kehidupan yang ada. Dan saya yakin seyakin – yakinnya, sebagian besar para pendatang di Ibu Kota juga memiliki alasan yang sama dengan saya ketika memutuskan untuk bermigrasi ke kota Jakarta.

Terkadang ketika anda tak kuasa menangkis benturan peradaban yang ada, maka jalan – jalan dengan pilihan terakhir harus anda ambil hanya untuk mempertahankan kehidupan yang ada.

Pulosari, 11 Agustus 2013
@asepsandro_del

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Maaf, Kami Hanya Mengikuti Alur Kehidupan (Refleksi Arus Balik Mudik Lebaran) yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 14:11

0 komentar:

Post a Comment