Cerita Tentang Cuti Lebaran Guwe

Written By Asep Irwan on Sunday, 21 August 2011 | 19:13


Hari Sabtu kemarin adalah hari dimana cerita tentang cuti lebaran guwe mencapai episode terakhirnya. Cerita ini bermula ketika guwe merencanakan untuk mengambil cuti dihari raya lebaran tahun ini beberapa minggu yang lalu. Sebenarnya bukan sekali ini guwe ambil cuti lebaran. Setidaknya guwe sudah dua kali ambil cuti lebaran sejak guwe bekerja dikantor.

Memang guwe selalu memanfaatkan jatah cuti guwe hanya ketika lebaran tiba. Alasannya, guwe cuma pengen ngerasain lebaran dikampung untuk waktu yang lebih lama setelah setahun lamanya bekerja dikota. Buat guwe, lebaran dikampung memang sangat istimewa dan mungkin tak tergantikan dengan apapun. Itulah mengapa guwe selalu mengambil sebagian besar jatah cuti guwe disaat lebaran.

Namun kali ini agak berbeda dengan sebelum –sebelumnya. Cuti guwe selama enam hari untuk tahun ini tak mendapatkan persetujuan dari pihak manajemen. Guwe hanya mendapat persetujuan dua hari saja untuk cuti yang guwe ajukan. Sedih bercampur binggung melanda guwe saat menerima surat keputusan tersebut. Sedih karena memang tak semua hari yang guwe ajukan disetujui. Menjadi binggung karena guwe sudah membeli tiket pulang ke kota pada hari yang guwe ajukan dari surat cuti lebaran enam hari tersebut. Karena cuti yang disetujui hanya dua hari, maka jika guwe nekat bolos artinya guwe bolos empat hari yang artinya guwe harus merelakan kurang lebih 400 ribu-an dari gaji guwe bulan September. Tapi kalau guwe harus memenuhi jatah dua hari cuti tersebut, maka guwe harus membeli tiket baru lagi untuk keberangkatan yang berbeda dan tiket yang guwe beli seharga 500 ribu-an sebelumnya akan menjadi sia –sia.

Diantara kegalauan tersebut, keputusan harus ditetapkan. Keputusan guwe pada akhirnya adalah guwe harus tetap seperti rencana awal guwe sebelumnya yaitu guwe tetap ambil enam hari itu dengan konsekuensi empat hari dihitung ijin yang artinya guwe harus merelakan gaji guwe dipotong. Guwe sudah sangat yakin dengan keputusan itu, guwe nggak akan nyesel dengan apa yang guwe putuskan itu. Toh secara itungan matematis pun guwe bakalan lebih rugi jika guwe harus mengikuti cuti dua hari tersebut. Why? Because harga yang harus guwe tanggung akan lebih mahal jika guwe harus balik dihari cuti dua hari tersebut. Itungan sederhananya adalah harga tiket yang sudah guwe beli adalah 500 ribu, sedangkan gaji yang bakal guwe harus relakan adalah 400 ribu-an. Dari sini saja udah kelihatan selisih 100 ribu. Belum lagi tiket baru yang guwe harus beli, maka selisihnya pun akan menjadi lebih besar tentunya.

Namun sebenarnya bukan angka matematis itu yang guwe kejar. Lebih dari itu, rasa cinta dan suasana lebaran dikampung halaman yang mungkin akhirnya membuat guwe harus memutuskan hal itu. Suasana, kehangatan dan semua perasaan itu tak akan tergantikan dengan apapun dan mungkin sampai kapanpun. Mungkin nanti pas guwe telah tiba dikampung halaman, guwe akan ceritain kepada teman - teman semua tentang kampung halaman guwe yang guwe cintai ini.

Begitulah cerita tentang cuti lebaran guwe kali ini, akhir kata guwe ucapkan, selamat mudik buat teman – teman yang mudik, selamat menjelang hari kemenangan 1432 H. Minal aidin fal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. :)

Djakarta, Hari 21 Boelan 8 Tahoen 2011

Atas nama kampung halaman

Asepsandro - Irwan

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Cerita Tentang Cuti Lebaran Guwe yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 19:13

0 komentar:

Post a Comment