Dilema Memilih

Written By Asep Irwan on Wednesday, 9 April 2014 | 22:56

Sumber gambar : google.com

Hidup adalah pilihan, pilihan yang harus ditentukan, karena ini adalah hidup. Karena hidup itu pilihan, maka memilih adalah sesuatu yang akan menghampiri kita sepanjang kita masih hidup. Tapi tak selamanya pilihan harus selalu dipilih. Karena jika pilihan itu meragukan, maka pilihan itu tak harus dipilih. Apalagi jika tawaran pilihan itu datang dari orang lain yang tak kita kenal.

Bayangkan anda sedang santai - santai lalu ada orang yang tiba - tiba menghampiri anda menyodorkan 12 pilihan yang katanya genting karena menentukan nasib bangsa. Lalu orang asing itu berkata : "Tolong pilihkan satu diantara 12 pilihan ini yang paling baik dong?. Buat saya ini aneh sekali. Buat saya, itu urusan anda, kenapa nyuruh - nyuruh kita buat milih. Tau nggak sih, anda itu menambah banyak kerjaan kalau anda menyuruh kami untuk ini. Anda suruh kami nantinya mempelajari pilihan - pilihan itu kan. Emang kita nggak ada kerjaan lain. Kami tiap hari kerja bung, nggak nganggur. Tak ada waktu untuk itu.

Jadi menurut penulis, memilih atau tak memilih adalah sebuah pilihan. Anda bisa memutuskan untuk memilih atau juga tak memilih. Karena tak memilih juga sebuah pilihan. Pilihan sepenuhnya ada ditangan kita, apalagi kita adalah rakyat sebagai pemegang penuh kedaulatan dan kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi. Jadi tak ada yang bisa memaksa rakyat untuk memilih atau tak memilih. Menurut penulis, pemilu adalah urusan negara, rakyat hanya sifatnya membantu. Mungkin ini agak ekstrim, tapi kondisi negara yang sudah lebih dari ekstrim ini membuat saya harus berspekulasi seperti ini. Satu prosa coba penulis sajikan untuk mengaplikasikan dilema memilih ini :

Pilihlah wakil rakyat yg amanah, jujur dan bertanggung jawab.
Ah yang bener, emang masih ada??
Kalau udah nggak ada, apa yg mau dipilih??
Segelintir kata pedas meluncur ditelingaku dari salah satu pemilih

Sekarang kau suruh - suruh kami untuk memilih.
Kau tawarkan kami calon - calon dari partai ini dan itu.
Tapi kami tidak ada yang kenal dengan mereka.
Akhirnya kami mengalami kebinggungan.

Ketika kami binggung dengan calon - calonmu, kau suruh kami telusuri rekam jejaknya agar kami kenal.
Tapi maaf waktu kami sudah habis untuk mencari makan.
Tak ada waktu untuk kami menelusuri identitas calon - calon itu.
Waktu kami sudah habis untuk urusan mempertahankan hidup, hidup yang biasa - biasa ini.

Kalau mau milih, kami dinasehati jangan sampai kau salah pilih.
Kemudian kami jadi khawatir salah pilih.
Keraguan pun muncul.
Dan katanya sesuatu yang meragukan itu harus ditinggalkan.

Memilih dan tidak memilih adalah sebuah pilihan
Tak usah menghakimi kami yang tak memilih
Kami masih apatis dengan keadaan
Kalau ini terlalu ekstrim, bilang saja ini dilema, dilema memilih.

Rawa Belong, 9 April 2014

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Dilema Memilih yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 22:56

0 komentar:

Post a Comment