Hitung Cepat Yang Terlalu Cepat

Written By Asep Irwan on Monday, 14 July 2014 | 06:12

Sumber gambar : google.com
Pilpres kali ini mungkin yang paling ribut disepanjang penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Betapa tidak, sampai detik dimana rakyat sudah melakukan tugasnya untuk memilih, ketenangan masih belum didapat. Tapi apa mau dikata, kondisinya sudah seperti ini dan kita tak punya kuasa atas situasi yang ada. Kita di sudut apapun posisinya saya kira telah menjadi semacam korban yang mau tak mau terseret arus dalam gejolak politik ini. Ironis memang, dalam pesta demokrasi yang katanya diperuntukkan untuk rakyat, malah menjadi pukulan telak bagi rakyatnya sendiri. Saya sendiri tak mengerti mengapa pilpres kali ini terjadi begitu seribut ini.

Kasus terakhir yang muncul adalah kericuhan hitung cepat pasca pencoblosan. Hitung cepat kali ini memang berbeda dengan hitung cepat pemilu sebelum – sebelumnya. Baru kali ini quick count berbeda hasil. Baru kali ini juga hitung cepat memunculkan masalah. Hitung cepat memang harus cepat, namanya juga hitung cepat. Namun harusnya ada hitung – hitungan juga efek dari hitung cepat ini. Apakah dengan hitung cepat akan didapat kebaikan yang cepat pula, atau malah serangan kilat dampak buruk yang didapat? Ini bukan perkara siapa yang berlaku jujur atau curang, tapi ini tentang tujuan akhir yang ingin dicapai. Biasanya hal – hal yang bersifat cepat dan instan menghasilkan sesuatu yang kurang baik. Ini karena hal yang instan tersebut tidak diproses dengan sempurna. Kalau anda pernah mendengar kurang sehatnya mengkonsumsi mie instan atau fast food, maka hitung cepat tak jauh – jauh seperti kedua makanan tersebut. Maka tak berlebihan jika kemudian hasil hitung cepat ini menimbulkan keributan disana – sini.

Seharusnya jikapun kericuhan politik ini terjadi, anda semestinya tak perlu ikut – ikutan. Politik adalah urusan kekuasaan, dan kekuasaan itu memiliki porsi yang lebih banyak pada orang – orang yang ada di partai dan pemerintahan. Kita sebagai orang biasa hanya punya secuil persentase hak dalam kekuasaan itu. Ini harus kita akui walalupun pahit. Bukti yang bisa diajukan adalah apakah anda punya kekuasaan untuk mengubah keadaan ribut sepanjang pilpres ini? apakah anda juga mampu mengontrol tatanan kabinet dan program – program dari capres yang anda jagokan? Tentu kita punya keterbatasan akan hal ini. Termasuk dalam hal kekisruhan hitung cepat ini. Kita benar – benar tak punya kuasa atas hal itu semua kan. Inilah batas kekuasaan kita dalam teori kekuasaan yang ada.

Jadi ketika hitung cepat kali ini menjadi ricuh karena mungkin dirasa terlalu cepat, maka kita harusnya tak perlu ikut dalam kericuhan tersebut. Anda dan saya adalah orang yang punya harapan baik pada negara ini, saya yakin itu. Kericuhan ini terlalu kecil untuk kita ikuti untuk menghadirkan masa depan yang lebih cerah untuk negeri ini. Kalau anda punya pilihan yang menurut anda bisa menjadikan Indonesia lebih baik lalu ada yang coba mengusiknya, maka anda harus bisa melihat sekeliling anda. Apakah sikap anda sudah selaras dengan apa yang diinginkan oleh publik?

Pemilu adalah masa depan bersama, bukan masa depan pribadi atau golongan. Hitung cepat mungkin metode untuk menghadirkan penawar gairah antusiasme publik, namun saya kira hal ini hanya bersifat sesaat saja. Tentu saja kita tak butuh solusi yang hanya sementara saja kan. Negeri ini sudah terlalu terpuruk jika kita hanya selalu berfokus pada jalan keluar yang hanya bersifat solusi sesaat. Kita butuh solusi jangka panjang yang berdampak sehat untuk semua kalangan. Semoga kedepan pemilu bisa menghadirkan kebaikan bagi semuanya. Amiiin...!!

Batavia, 14 Juli 2014
05 : 58

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Hitung Cepat Yang Terlalu Cepat yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 06:12

4 komentar:

  1. Lebih enak nunggu hasil akhirnya ya. Biar ga ada yang klaim kemenangan terlalu dini.

    ReplyDelete
  2. Rasanya rakyat kita sudah terlalu "termakan" oleh media. Miris ...

    ReplyDelete
  3. @mahadewi : lucu - lucu ngeri ..hehehe @ila : lebih baik memang spt itu, harusnya @neng Fana : termakan hidup - hidup ..

    ReplyDelete