Selfie, Narsisme dan Teknologi Yang Memanjakan

Written By Asep Irwan on Saturday, 10 May 2014 | 15:42

Sumber gambar : google.com
Budaya yang merupakan cara hidup sebagai hasil karya manusia akan selalu lahir, berkembang dan (bisa jadi) lenyap dengan mengikuti zamannya. Diabad 21 ini, tidak sedikit budaya yang muncul dan lahir, namun tak sedikit pula budaya yang mulai luntur dan (bisa jadi) akhirnya hilang. Dulu, di desa saya, mengaji di surau, musholla atau masjid selepas sholat maghrib sudah jadi kebiasaan anak – anak yang masih sekolah. Hingga pada akhirnya surau itu menjadi rumah kedua bagi mereka. Namun sekarang sepertinya budaya “mengaji maghrib” di desa saya perlahan mulai luntur dan memudar. Tak ada lagi nampak gerombolan anak – anak bersarung, berpeci dan membawa kitab menuju masjid. Yang terlihat saat ini hanya satu dan dua anak saja, itupun tak setiap hari terlihat.

Perubahan memiliki peran sentral dalam tumbuh kembangnya budaya. Maka sejarah peradaban manusia sejatinya tidak akan lepas dari unsur primer ini. Abad-21 sering dikenali sebagai abad teknologi. Betapa derasnya arus teknologi hingga kemudian menciptakan dan melahirkan budaya – budaya baru di sekitar kita. Kalau temen – temen masih ingat dulu ada ungkapan “teknologi membuat autis” sejak munculnya handphone (HP) dan sms, karena manusia jadi asyik dengan HP dan dirinya sendiri, maka idiom itu sekarang sudah tak berlaku lagi. Kini teknologi membuat budayanya yang baru, yaitu budaya Selfie.

Selfie secara harfiah adalah kegiatan atau aktivitas memotret diri sendiri (narsisme). Sedangkan menurut referensi pustakawan Britania adalah sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui smartphone atau webcam yang kemudian diungguh ke situs web media sosial. Menjamurnya selfie saat ini tidak lain tidak bukan karena hasil dari perkembangan teknologi. Dulu, sebelum handphone punya perangkat kamera yang canggih, tak ada orang – orang narsis seperti sekarang. Namun, setelah handphone dilengkapi dengan kamera canggih (terutama kamera depan) maka selfie menjadi tak terbendung. Apalagi sekarang dengan banyaknya aplikasi pendukung selfie dan hadirnya alat pendukung selfie berupa tongsis (tongkat narsis) semakin berkibarlah kejayaan selfie.

Tapi segeliat apapun teknologi menghampiri manusia, ada satu hal yang mampu mencegah perubahan. Perubahan budaya tak akan terjadi jika pola pikir manusia tak mengikutinya. Karena pola pikir manusia adalah instrumen daya ledak perubahan itu. Penentu perubahan itu terjadi atau tidak tetap terletak pada manusianya. Namun, biasanya ketika perubahan bergerak secara militan dan keroyokan, manusia jarang ada yang bisa menghindari. Sikap arif dan bijkasana mungkin solusi terbaik untuk menghadapi perkembangan teknologi yang bisa membuat perubahan budaya ini. Selfie, naris atau apapun itu sebutannya adalah tahap awal yang mungkin bisa kita terapkan disana. Ingat pula, bahwa sesuatu yang berlebihan selalu berujung hal – hal yang tidak baik, termasuk selfie dan narsis.

Atas Nama Bangsa Indonesia
10.05.2014
15:32

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Selfie, Narsisme dan Teknologi Yang Memanjakan yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 15:42

7 komentar:

  1. Setuju, tinggal bagaimana manusianya sendiri yang menentukan dan menilai apakah itu positif atau mungkin negatif

    ReplyDelete
  2. Jaman sekarang teknologi maju, pengguna teknologinya sendiri diam ditempat.

    ReplyDelete
  3. padahal teknologi bisa lebih diberdayakan untuk hal2 baik, selain buat selfie

    ReplyDelete
  4. aku juga nggak terlalu suka selfie soalnya dia dosen paling killer di kampus. #Lhah

    Ingat pula, bahwa sesuatu yang berlebihan selalu berujung hal – hal yang tidak baik, termasuk selfie dan narsis. << Nice quote bang :D

    ReplyDelete
  5. Makasih banyak mas samsir, mas ali, mbak ila dan mbak reny udah mampir di blog saya. Semoga kita semua bisa lebih bijak dan arif dalam menggunakan teknologi yang sekarang dan mungkin yang akan datang.

    ReplyDelete
  6. setuju, apapun yang berlebihan itu kurang baik :)

    ReplyDelete
  7. okelah klo begitu mas devan :) sip tenan !!

    ReplyDelete