Balada Ramadhan Manusia Penyepi

Written By Asep Irwan on Thursday, 18 July 2013 | 20:52


Hidup menyendiri memang salah satu tantangan bagi setiap orang, tak terkecuali bagi Cak Sandro. Sudah lebih dari 8 tahun Cak Sandro hidup sendiri, jauh dari keluarga, sanak saudara dan teman – teman sekampungnya. Terlebih di kota metropolitan ini, dia sudah seperti Bedes ketulup bedil (Monyet tertembak senapan). Kelimpungan, nggak jelas, teralienasi dan semburat tak karuan. “Sendiri tak berarti sepi, merasa sepi pasti sedang sendiri.” Kata Cak Sandro kalau ada yang sedang menyindirnya.

Momen tergalau dari seluruh kejadian satu tahun ini tentunya adalah bulan Ramadhan. Bukan apa-apa, selain jomblo dia juga seorang psikopat. Dia tak bisa terlalu sabar untuk hal – hal tertentu yang dianggapnya krusial. Bulan Ramadhan sebenarnya merupakan waktu yang tepat baginya untuk menjadi insan kamil yang lebih dewasa dan menjaga hawa nafsunya yang menggebu-gebu itu. Namun disitulah tantangan yang harus dihadapi Cak Sandro. Tantangan paling besar dari seluruh bulan dalam setahun sebagai manusia penyepi di kota seribu satu mimpi.

Tantangan Ramadhan pertama bagi Cak Sandro adalah bangun sahur. Tanpa seorang pendamping, Cak Sandro cuma bisa mengandalkan alarm jam dan pengingat dari teman yang senasib dengannya di rumah kontrakan. Tak jarang Cak Sandro berpuasa tanpa makan sahur karena kebablasan atau kesiangan bangun. Kalau itu terjadi, badannya akan melemah ketika siang hari, mengingat kegiatannya yang cukup padat. Tapi syukurnya, ia tak pernah putus puasa walau ia berpuasa tanpa makan sahur.

Tantangan kedua adalah berkurangnya jam tidur. Jangankan bulan Ramadhan, bulan-bulan biasa saja tidur Cak Sandro tidak selalu lebih dari 6 jam, itupun setelah ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa tidur lebih cepat. Sebagai seorang manusia penyendiri, tiap malam ia hanya berteman dengan pikiran yang kalut, angin malam dan bantal guling. Alhasil, ia akan selalu mengatuk saat aktivitasnya berlangsung di tempat ia beraktivitas.

Dan tantangan terbesar bagi Cak Sandro saat Ramadhan adalah menahan hawa nafsu. Sebagai seorang jomblo yang sukses, Cak Sandro jelas selalu merasa kahawatir dengan legalitas puasanya. Selain hawa nafsunya sendiri yang harus dikontrol, faktor eksternal dari luar dirinya juga berpengaruh dalam membatalkan dan atau meng-ilegal-kan puasa yang sudah ia niatkan sebelumnya. Terlebih saat ini Cak Sandro sedang hidup di kota metropolitan. Godaan nafsu yang harus diterimanya sangat besar untuk seukuran manusia yang sudah terlanjur lama menjadi orang desa. Dari orang yang tidak berpuasa yang dengan bebas makan minum ditempat umum, panasnya dan macetnya kota dan yang pasti godaan wanita – wanita kota dengan paras serta pakaian yang sangat menggoda. Untuk yang terakhir, Cak Sandro selalu berdo’a kepada Tuhannya setiap selesai ibadahnya :

“Ya Allah, ampunilah hamba jika puasa ini tak berjalan sempurna. Ampunilah hambamu ini jikalau hamba tak mampu menjaga eksistensi niat puasa ini. Hamba hanyalah makhluk yang lemah, tak punya daya upaya kecuali dengan kuasaMu. Ya Allah, perkenankan hamba memohon satu permintaan yang mungkin akan selalu saya panjatkan pada setiap do’a hamba. Pertemukanlah segera hamba dengan tulang rusuk hamba yang Engkau telah tetapkan sebelum hamba terlahir didunia ini. Mungkin jikalau hamba belum pantas, maka segerakanlah kepantasan untuk hamba agar hamba bisa segera menjemputnya. Hamba tak tau kemana lagi hamba memohon selain kepadaMu ya Allah. Semoga Engkau mengabulkan permohonan do’a hambamu ini. Amiiin ya Rabbal Alamin”

Tak terasa air matanya menetes sesaat setelah Cak Sandro berdo’a. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhannya. Ia mengalami dilema. Sebagai manusia penyendiri, ia sadar bahwa ia harus berjuang dengan kesendiriannya. Namun sebagai manusia yang utuh, ia juga sadar bahwa ia harus menjalin ikatan kekeluargaan dan kemasyarakatan sebagai pelengkap imannya. Tiba – tiba suara alarm jam berdering keras, lamunannya buyar. Cak Sandro harus bersegera makan sahur. Ternyata semalaman ia tak tidur.

Rawabelong, 18 Juli 2013
asep irwan

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Balada Ramadhan Manusia Penyepi yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 20:52

1 komentar: