Anomali Seberang Kali

Written By Asep Irwan on Wednesday, 24 July 2013 | 20:38

Keadaan negara ini semakin lama semakin runyam, tutur Cak Sandro. Runyam gimana maksudnya, respon Cak Berto. Ya runyam, kacau, menggelisahkan dan mengkhawatirkan. “Negeri ini sudah menjadi Anomali”. Anomali?? Bahasamu ada-ada saja dro. Emang apaan anomali? Sahut Cak Javi. Cak Sandro dengan sigap membuka peramban internet dihandphone jadulnya. Menurut wikipedia, anomali adalah penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain tidak seperti biasanya. Anomali di negeri ini sudah menjadi – jadi. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin, atasan – bawahan dan “surga – neraka”, semua semakin terlihat jelas, nyata, riil, kokrit dan konyol. Keluh Cak Sandro

Pembicaraan semakin intens, Cak Sandro akhirnya ditanggap untuk bertaushiyah oleh teman-temannya. “Panorama anomali di negeri ini bak kisah di seberang kali. Sangat dekat, tak berjarak dan hanya dibatasi oleh sebuah jembatan. Seperti kita tahu, kali atau sungai di Indonesia sering menjadi patokan dan batas antar daerah atau wilayah. Di negeri ini, batas antar kecamatan, kabupaten atau provinsi memang masih memanfaatkan objek alam untuk manandai batas – batas wilayahnya. Ini adalah tradisi lama yang masih dilestarikan sampai sekarang selain mudik dan kampanye partai.”

Apa buktinya? Tanya Cak Diego

Banyak. Kalau kamu ingin melihat anomali yang ekstrim datang saja ke Jakarta. Disana kamu akan jumpai banyak rumah gubuk diantara rerimbunan apartemen, hotel dan rumah mewah yang berhalaman padang golf. Di ibu kota negara itu kamu juga akan temui para pemulung yang tiap hari banting tulang dengan bercucuran keringat dan juga anggota dewan yang kerjanya tiap hari Cuma DDTT (datang-duduk-tidur-terima duit). Tentu kita juga masih ingat dengan cerita anak –anak Banten yang berangkat sekolah dengan menyebrangi jembatan yang hampir roboh. Dengan taruhan nyawanya dan tanpa keraguan sedikitpun, mereka gagah berani menyeberangi jembatan separuh nyawa itu untuk pergi menuntut ilmu. Konyolnya kejadiannya ini hanya berjarak puluhan kilometer saja dari ibu kota negara.

Jika kita perlebar, negara ini sebenarnya juga sudah menjadi anomali. Negeri yang katanya serpihan surga yang jatuh ke bumi, rakyatnya malah sengsara. Negeri yang katanya zamrud khatulistiwa, tapi semua kebutuhannya serba impor. Negeri kolam susu yang kata Koes Plus kini sudah menjadi kolam air mata. Beranjak ke seberang kali, kita akan bertemu Singapura dan Malaysia. Negeri tetangga yang hanya berjarak beberapa satuan panjang itu menjadi protagonista dari Indonesia. Negeri seberang kali itu telah menjadi negara yang aman, makmur dan sejahtera. Mungkin anomali juga bagi mereka (Singapura dan Malaysia), karena keadaan alamnya yang tak lebih hijau dari Indonesia, namun rakyatnya mampu untuk memikirkan jenis lauk pauk yang akan dimakannya esok hari.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Kembali Cak Diego bertanya

Cak Sandro terdiam sejenak. Terlihat antara seperti berpikir dan kerasukan jin. Kembali dia berujar. Tak ada asap kalau tak ada api. Tak ada semut kalau tak ada gula. Tak ada negeri yang sejahtera tanpa pemerintahan yang bertekad mensejahterahkan rakyatnya. Dengan kekayaan alam yang luar biasa ini sebenarnya mustahil kalau rakyat Indonesia sampai kelaparan. Mustahil rakyat sampai tak bisa sekolah dan bekerja. Anomali di seberang kali, itulah yang terjadi sekarang di republik ini. Berakhirlah diskusi dadakan para mbelgendes ditepian sungai Bondoyudo sore itu dengan sebuah perenungan yang cukup dalam.

Rawabelong, 24 Juli 2013
@asepsandro_del

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Anomali Seberang Kali yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 20:38

0 komentar:

Post a Comment