Kartini, anda bukanlah Kartono…. (Refleksi Kartini Masa Kini)

Written By Asep Irwan on Friday, 22 April 2011 | 00:01


Sebelumnya saya mohon maaf jika judul artikel ini terlalu konfrontatif. Saya tidak bermaksud merusak perayaan hari Kartini saat ini. Saya juga bukan orang yang anti-Kartini dan pro-Kartono. Tapi dihari penuh makna bagi perempuan ini saya ingin mencoba mengulas fakta tentang wanita Indonesia masa sekarang dibalik cerita fiksi berikut ini.

Disuatu kediaman di Jakarta, terdapatlah keluarga pak Tono yang sejak pagi-pagi hari sudah sangat riuh dengan kesibukan masing-masing dari anggota keluarganya. Kesibukan ini juga tak luput menimpa Ibu Tini (isteri Pak Tono). Tapi kesibukan Bu Tini bukan untuk mempersiapkan sarapan dan membantu persiapan pak Tono ke kantor dan anak-anaknya ke sekolah. Bu Tini terlalu sibuk dengan dirinya sendiri untuk mempersiapkan dirinya berangkat ke kantor. Sarapan dan perlengkapan suami dan anak-anaknya setiap harinya telah diwakilkan kepada orang lain yang tidak lain adalah Minah, pembantu keluarga pak Tono.

Agar tidak terlambat, bu Tini akhirnya menyuruh pak Dirman untuk mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Bu Tini tidak ada waktu untuk itu. Di Kantor, Bu Tini adalah seorang Direktur perusahaan properti dan jasa konstruksi. Pekerjaan ini menuntut Bu Tini untuk selalu bekerja keras agar perusahaan terus maju dan berkembang. Selama enam hari penuh dari pagi sampai petang hari bu Tini membanting tulang untuk kesejahteraan keluarganya. Bahkan tidak menutup kemungkinan hari Minggu Bu Tini di isi dengan jadwal meeting di luar kota untuk bertemu dengan klien ataupun kegiatan rapat perusahaan.

Tanpa disadari, putra-putri Bu Tini mengalami disorientasi. Si Angga menjadi pencandu Narkoba, sedangkan Si Anggi diketahui sudah mengandung jabang bayi dari pacarnya. Akhirnya pak Tono sendiri selingkuh dengan wanita simpanannya yang setelah diketahui adalah sekretaris di kantornya. Kehidupan keluarga ini menjadi hancur ketika pak Tono memutuskan untuk menceraikan Tini, istrinya sendiri, ketika dituduh sang suami melakukan perselingkuhan pula.

Begitulah sedikit cerita fiksi saya, yang mungkin beberapa telah menjadi fakta jika melihat relita kehidupan di Jakarta akhir-akhir ini. Kartini, anda adalah seorang Kartini bukan Kartono. Anda boleh menganggap diri anda punya kedudukan yang sama dengan Laki-laki. Zaman sekarang memang bukan zaman kolobendo (zaman kompeni Belanda) yang mengharuskan Kartini dan anda dipingit di rumah selama beberapa tahun hingga ada seorang lelaki yang melamarmu. Ini juga bukan zaman Siti Nurbaya yang mengharuskan anda memilih jodoh yang telah ditentukan oleh orang tua anda. Meskipun sekarang zaman emansipasi atau apalah itu namanya, anda harus ingat gender anda ketika anda dilahirkan ke dunia ini. Anda terlahir sebagai seorang perempuan yang memiliki keistimewaan dalam keluarga yang tidak dapat digantikan oleh perempuan lain macam Bi Ijah atau Bi Imah atau Bi Minah dalam cerita fiksi tadi.

Anda boleh menuntut hak emansipasi itu, saya tak punya keberanian untuk menentangnya, bahkan presiden pun tak punya hak untuk mengubah keadaan ini yang telah berpuluh-puluh tahun telah diperjuangkan oleh pahlawan anda yang sekarang kita peringati bersama. So, dihari Kartini yang berbahagia ini jadikanlah pribadi kita sebagai pribadi Kartini yang sejati tanpa mengabaikan hak-hak seorang Kartini yang sejatinya. Lalu lihatlah apa yang terjadi……itu.....

Selamat hari Kartini untuk Bu Tini dan Selamat hari Kartono untuk pak Tono……..hehehehe…… :)

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Kartini, anda bukanlah Kartono…. (Refleksi Kartini Masa Kini) yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 00:01

1 komentar:

  1. Wah miris ya baca ceritanya. Semoga kita (wanita) tidak termasuk dalam golongan Kartono deh :)

    ReplyDelete