Sesuatu Bernama "Selilitan"

Written By Asep Irwan on Saturday, 5 January 2013 | 11:48


Hari ini saya “selilitan”. Tahukah kalian kawan apa itu “selilitan”?. Mungkin ada beberapa teman yang masih belum mengerti, karena memang kata tersebut merupakan kata dasar dalam bahasa Jawa. Mungkin saja kata tersebut sudah masuk dalam kamus besar bahasa Indonesia, namun sejauh yang saya selidiki, kata itu berupa kata selilit yang merupakan kata serapan dari bahasa Jawa.

Disini saya bukan seorang primordial yang meninggikan suku bangsa tertentu diatas suku bangsa lain. Tapi itulah kenyataan bahwa saya kesulitan untuk mencari kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dimana sisa makanan menyangkut di dalam gigi yang berlubang selain dengan kata selilitan. Tapi kalau boleh terus terang memang masih banyak kata – kata bahasa Jawa yang sangat unik dimana tidak ada padanan kata yang sebanding dalam bahasa lain, bahkan dalam bahasa Inggris sekalipun. Untuk yang satu ini saya akan bahas dalam tulisan yang lain.

Kembali ke masalah selilitan, saya adalah salah seorang penderita selilitan. Hampir setiapkali sesudah makan, ada saja sisa makanan, entah itu nasi atau lauk pauk yang menyangkut digigi. Maka jika ada hukum sebab-akibat sudah dapat dipastikan bahwa sebagian besar para penderita selilitan adalah mereka – mereka yang memiliki gigi berlubang. Yup, itulah yang terjadi pada diri saya, gigi graham kanan saya sudah terhitung lama berlubang dan membuat saya mau tak mau harus menggunakan gigi geraham kiri untuk melakukan pencernaan di mulut.

Namun puncak dari tulisan ini sebenarnya bukan hal – hal yang telah saya sampaikan diatas. Namun yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman lewat tulisan ini adalah lebih kepada rasa atau efek yang bisa ditimbulkan oleh keadaan selilitan ini. Selilitan memang bukan hal yang luar biasa, bahkan untuk dikategorikan sebagai sakit ringan pun tak memungkinkannya. Namun bagi saya selilitan adalah bentuk keadaan kejiwaan tubuh yang cukup serius. Bagaimana tidak, setiap kali saya selilitan saya selalu merasa binggung atau galau kata anak-anak sekarang. Kok bisa binggung? Ya, saya juga tidak paham betul mengapa bisa begini. Yang jelas, ketika saya selilitan, saya seperti kehilangan beberapa persen dari jiwa saya, apalagi jika selilitan itu sulit dihilangkan, saya hampir tak menjadi diri saya yang sebenarnya.


Jika terjadi keadaan selilitan, saya tak habis pikir hampir 100% dengan tiba-tiba fokus dan perhatian utama saya tertuju pada solusi menghilangkan sisa makanan yang menyangkut di gigi tersebut. Meskipun ada beberapa kondisi yang sebelumnya saya pikirkan, namun ketika tiba-tiba terkena selilitan, saya kemudian menjadi seorang psikopat untuk segera membunuh penyebab selilitan tersebut. Berbagai cara saya lakukan untuk mengatasi selilitan, dari berkumur, mencongkel dengan lidi bahkan sampai gosok gigi. Hal yang paling menjengkelkan lagi adalah ketika usaha-usaha tersebut tak membuhkan hasil. Keadaan seperti itu membuat saya semakin “gregetan” dan jengkel terhadap sisa makanan yang nyangkut di gigi itu.

Biasanya ketika hal itu terjadi, saya memilih untuk bersikap pasrah sembari sedikit – sedikit mengulang usaha menghilangkan selilitan. Meskipun pada akhirnya selilitan bisa teratasi dengan kurun waktu tertentu, saya tetap menghimbau pada teman – teman untuk selalu menjaga kesehatan gigi. Walau keadaan selilitan bisa menimpa semua orang, tapi dengan gigi yang sehat keadaan selilitan bisa diminimalisir seminimal mungkin. Inilah yang ingin saya sampaikan keada teman – teman lewat tulisan ini. Sebelum terlambat, selagi gigi – gigi kita mampu mencerna makanan, inilah saatnya, untuk merawat gigi pemberian Tuhan yang maha baik ciptaan-Nya. Sepakat?

Januari 2013
Ditulis Di Lumajang, Di Upload di Pasar Turi, Surabaya - Jawa Timur

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Sesuatu Bernama "Selilitan" yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 11:48

0 komentar:

Post a Comment