Bangsa Lelakon

Written By Asep Irwan on Saturday, 24 November 2012 | 10:09


Film merupakan salah satu alternatif hiburan yang menjadi pilihan masyarakat abad-20 dewasa ini. Hampir tiap pekan film layar lebar di Cinema -21 berganti judul. Meskipun saya bukan “maniak” dalam urusan menonton film, namun saya sedikitnya pernah-lah kalau cuma nonton film. Dan yang jelas yang namanya film - dimanapun, kapanpun dan dengan judul apapun menurut saya memiliki karateristik yang sama. Ada lakon atau tokoh protagonis , tokoh antagonis dan ada cerita.

Tokoh protagonis adalah tokoh utama dalam sebuah film. Lakon dalam tutur bahasa lawasnya. Dan seperti kita tahu semua bahwa yang namanya lakon dalam sebuah film apapun pasti adalah mereka yang memiliki jiwa pahlawan dalam dirinya. Mereka pemberani dan berani mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang-orang lemah yang perlu ditolong. Mereka adalah tokoh yang menderita dan sabar dalam penderitaannya, terlepas dari akhir cerita film yang bisa happy ending atau sad ending.

Namun ada yang aneh dalam diri tokoh lakon ini yang kemudian membuat saya tidak habis pikir. Keanehan yang sudah lazim dalam dunia perfilman ini adalah tokoh lakon ini selalu datang telat, belakangan atau terlambat. Pertanyaannya adalah kenapa musti terlambat? Apa biar seru, biar terlihat heroiknya? Jujur saya paling kesal dengan rundown setting ini. Apalagi kalau – kalau momen-nya sedang genting – gentingnya, seperti ada nenek – nenek yang akan tertabrak mobil, dengan jurus “mukjizat palsu” milik sang lakon tiba-tiba ia datang entah dengan terbang menarik sang nenek atau menabrakkan dirinya untuk menyelamatkan sang nenek. Benar-benar skenario hebat yang semakin membuat orang deg-degan dan menyebalkan.

Dari eksplorasi dan elaborasi diatas ada sebuah benang merah yang bisa kita ambil. Adalah suatu bangsa bernama Nusantara dulu dan bangsa Indonesia sekarang yang bisa mewakili deskripsi tokoh lakon tersebut. Bagaimana tidak bangsa ini adalah bangsa yang memiliki sejarah terpanjang dalam urusan penjajahan. Mereka di “pecut”, di perkosa dan di perbudak selama kurang lebih 3,5 abad oleh bangsa Eropa. Belum berakhir sampai disana kini, saat ini mereka di kolonisasi (lagi) oleh eksploitasi dan monopoli ekonomi. Tanah, air dan tambang mereka dikurang habis-habisan oleh orang – orang diluar negaranya untuk kepentingan kapitalnya. Terbayang betapa besarnya kesabaran bangsa ini.



Pertanyaannya kemudian apakah bangsa ini kemudian terluka hatinya? Tidak, sekali-kali tidak. Mereka adalah bangsa lelakon, bangsa yang tidak akan menyerah dengan keadaan apapun yang menimpanya. Bangsa yang memiliki sejuta bahakan semiliar kesabaran. Bangsa yang nantinya akan mejadi super hero yang akan menolong bangsa – bangsa yang lain. Meskipun memiliki mentalitas telat atau terlambat tapi itulah jiwa sang lakon, dalam sebuah sandiwara film bernama dunia ini. Skenarionya mungkin sudah diatur sedemikian rupa oleh sang Maha pengatur untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa lelakon.

Contoh nyata lain bahwa bangsa ini memiliki mentalitas bangsa lelakon adalah saat berlangsungnya International Micro Finance Conference/IMFC, sebuah konferensi ekonomi mikro Internasional yang untuk pertama kalinya diadakan di Yogyakarta 22 – 23 Oktober 2012. Disini bukan tanpa alasan dipilihnya Yogyakarta dan Indonesia sebagai negara pertama dalam konferensi internasional ini. Dalam perkembangan ekonomi dunia dewasa saat itu, ketika perekonomian Eropa dan Amerika sedang dilanda krisis dan kemunduran, ekonomi kerakyatan mikro Indonesia tampil untuk menyokong dan menyelamatkan negara dari ancaman perekonomian yang “sakit”.

Dalam perekonomian rakyat Indonesia, mereka (rakyat) tak mengenal krisis, dalam konsepnya, mau krisis ataupun tidak, tak ada bedanya. Krisis atau tidak itu hanyalah urusan pemerintah. Di negerinya yang dipenuhi kehidupan kapitalis dan hitungan matematis yang absurd, mereka dituntut untuk tetap survive (bertahan hidup). Dengan keadaan yang seperti ini mereka mau tak mau harus tetap melanjutkan dagangannya meskipun saat itu pasar sedang sepi-sepinya. Dan secara ajaib dan tak mereka sadari kekuatan bertahannya itu kemudian menciptakan perekonomian yang stabil dan kuat hingga membuat beberapa negara salut dan ingin mencontohnya.

Itulah sekelumit kisah tentang negeri lelakon yang sedikit terlupakan oleh keadaan dan (mungkin) oleh sebagian manusianya. Namun apapun itu abstraksi yang muncul kemudian, adalah sebuah keharusan untuk mencintai negerinya tempat ia dilahirkan, dibesarkan dan di merdekakan..... Akhirnya bangkitlah bangsa lelakon, bangsa negeri sejuta lelakon.......

Djakarta – Rawabelong, 23 November 2012
Asepsandro_del_Irwan

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Bangsa Lelakon yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 10:09

0 komentar:

Post a Comment