Lir Ilir, Senandung Jawa Ciptaan Sunan Kalijaga Yang Sarat Makna.

Written By Asep Irwan on Monday, 14 May 2012 | 16:36


Kawan, hari ini saya ingin cerita tentang satu lagu atau tembang lawas dari pulau Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali atau wali songo yang ikut andil menyebarkan agama Islam di pulau Jawa pada abad ke-15.

Sedikit cerita tentang Sunan Kalijaga, nama aslinya adalah Joko Said, seorang putera Bupati Tuban Raden Tumenggung Wilwatikta. Ibunya bernama Dewi Nawang Rum, berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak. Ia menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan sangat anti kekerasan. Salah satu pendekatan budaya yang sangat dikenal sampai saat ini adalah wayang purwa atau kulit yang bercorak islam. Selain kesenian wayang kulit, Sunan Kalijaga juga menciptakan sebuah dua tembang sarat makna yaitu tembang lir -ilir dan gundul gundul pacul (Suwito, Triyono. 2009. Sejarah SMA dan Madrasah Aliyah Jilid 2. Jakarta : Titian Ilmu).

Untuk pertama mungkin gw mau cerita tembang lir-ilir. Kawan, pertama kali gw mengenal tembang lir-ilir ini adalah ketika saya SMA kelas 1. Gw masih ingat bener, guru sejarah gw Pak Sodik namanya, sering kali menanyakan tembang ini dalam soal ulangannya, selalu, berulang-ulang, itu terjadi sampai gw kelas 3 IPS. Gw nggak ngerti mungkin hal ini terjadi sampai sekarang sampai adik-adik kelas gw sekarang. Dari beberapa ulangan yang berlangsung, akhirnya gw jadi hafal tembang ini. Sekedar hafal liriknya aja tidak lebih.

Selepas SMA, tembang ini menguap begitu saja ke angkasa, tanpa gw sadari sedikit pun. Meskipun gw kuliah di jurusan pendidikan Sejarah, gw tak tersentuh sedikit pun dari tembang kesayangan guru sejarah SMA gw ini. Waktu pun bergulir dan akhirnya gw dipertemukan kembali dengannya setelah sekian lama terlupakan. Pertemuan kali ini agak berbeda, gw nggak hanya disuguhkan lirik dari lagu, tapi lebih dari itu gw jadi tau dan mengerti makna dari tembang yang selama ulangan sejarah SMA gw tulis dikertas ulangan. “Gila nih lagu, sarat makna banget. Itulah komentar gw setelah pertama kali gw tau arti dari lagu itu.

Kawan, inilah lirik dan makna dari lagu ciptaan Sunan Kalijaga itu yang saya ambil dari web sebelah (http://anggacoz.wordpress.com/2008/03/28/lir-ilir-tembang-para-wali-tanah-jawi/). Cekibrot...

Lirik lir-ilir :
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…


Makna :
Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

Tandure wis sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.


Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Lir Ilir, Senandung Jawa Ciptaan Sunan Kalijaga Yang Sarat Makna. yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 16:36

0 komentar:

Post a Comment