Demokrasi Basa Basi

Written By Asep Irwan on Sunday, 17 November 2013 | 10:14

Sumber gambar : google.com
Demokrasi merupakan paham keterbukaan yang sebenarnya sudah muncul sejak abad ke – 5 sebelum masehi. Namun ternyata ia baru naik daun ketika dunia menginjak abad ke – 18 dan 19 Masehi. Secara harfiah, demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Demos yang artinya rakyat dan Kratos yang bermakna pemerintahan atau kekuasaan. Di Indonesia, definisi demokrasi menjadi lebih jelas dan sangat konkrit, yaitu pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Sungguh elegan dan gagah sekali melihat definisi demokrasi di Indonesia tersebut hingga penulis tertantang untuk menuliskannya.

Rakyat adalah hal primer dan utama jika melihat definisi demokrasi versi Indonesia diatas. Pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat, seharusnya semua tertumpu dan terfokus pada rakyat. Tapi apa yang terjadi dilapangan justru sebaliknya. Di sini (baca : di Indonesia) rakyat menjadi bulan – bulanan wakilnya di legislatif, eksekutif dan yudikatif. Ironis.

Salah satu bukti bentuk ketimpangan demokrasi di Indonesia adalah semakin merosotnya hidup masyarakat dari kemakmuran. Lho, apa hubungannya demokrasi dengan kemakmuran? Jelas sangat berhubungan, karena demokrasi adalah ajaran yang ditujukan pada rakyat, maka mau tak mau kemakmuran rakyat menjadi syarat mutlak keberlangsungan sebuah demokrasi yang baik.

Disini (baca: di Indonesia), anda harus mau melihat anak kecil yang memungut sampah untuk dijadikan uang. Disini pula, anda diwajibkan terbiasa melihat fenomena “si cantik dan si buruk rupa” ketika tepat disamping anak kecil yang memungut sampah itu bergerak mulus sebuah mobil mewah seharga miliaran rupiah. Kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat di republik ini masih jauh dari harapan. Itu artinya proses demokrasi di Indonesia belum membuahkan hasil atau boleh dinilai gagal.

Jangan tanya berapa tingkat kemiskinan dan pengangguran, tapi tanyakan mengapa hal itu bisa terjadi. Menurut penulis, sejumlah kasus KKN (baca : Ka – Ka – En) atau Korupsi, Kolusi dan Nepotisme menjadi biang kerok terjadinya kesenjangan di negeri ini. Lebih gawat lagi, saat ini kejahatan kerah putih itu telah ber-reinkarnasi menjadi hal yang lebih mengerikan. Korupsi berubah menjadi money laundry, kolusi menjadi joint venture dan nepotisme bertransformasi menjadi politik dinasti.

Demokrasi hanya basa – basi, hanya omong kosong yang digadang – gadang oleh segelintir orang untuk menumpuk dan memperkaya kantongnya masing – masing. Negeri ini sangat kaya dan melimpah dengan sumber daya alam. Sangat mustahil jika masih ada rakyat yang kelaparan dan serba kekurangan. Jangan salahkan rakyat yang tiba – tiba melakukan hal – hal diluar kewajaran. Mereka hanya ingin bertahan hidup, suatu tuntunan dari Tuhan yang tak bisa mereka ingkari.

Pesan penulis disini adalah jangan percaya dengan apapun yang belum terbukti kebenarannya dan kebermanfaatannya. Demokrasi adalah salah satu faham dan cara yang ditawarkan oleh pemikiran manusia untuk menjalankan pemerintahan. Tapi kita tidak harus ikut begitu saja ketika negara – negara di dunia heboh menerapkan demokrasi. Tumbuhan yang bisa hidup di tanah tertentu belum tentu bisa hidup di tanah yang lain, meskipun tanah itu berada di tempat yang sama bernama bumi.

Rawabelong, 16/11/2013
@asepsandro_del

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Demokrasi Basa Basi yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 10:14

1 komentar:

  1. demokrasi butuh pemimpin yg seperti nabi muhammad. disegani dihormati ditakuti namun tetap musyawarah. rendah hati dan jujur. sulit.

    ReplyDelete