Runtuhnya Negeri Berdikari

Written By Asep Irwan on Sunday, 20 October 2013 | 20:23

Sumber Gambar : Google
Negeri Zamrud Khatulistiwa
Berdikari adalah slogan dan filosofi bangsa yang disampaikan oleh Bung Karno saat peringatan HUT RI ke – 20, 17 Agustus 1965. Berdikari merupakan akronim dari Berdiri Diatas Kaki Sendiri yang terdiri dari berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Berdaulat dan berdikari adalah metode Soekano untuk mengedepankan prinsip kemadirian bangsa dalam dalam menapaki tangga kehidupan.

Tak berlebihan memang kalau Soekarno menggagas konsep berdikari dan kedaulatan bangsa Indonesia. Saya bukan Soekarno-isme apalagi Soekarno-ers. Saya hanya seorang WNI yang cinta pada republik ini dan ingin berbagi apapun tentang perkembangan negeri zamrud khatulistiwa ini. Masih ingatkah teman – teman dengan lagu Koes Plus ini : “Bukan lautan hanya kolam susu, Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”. Menurut saya inilah lagu yang mewakili betapa kayanya sumber daya alam Indonesia.

Dengan kekayaan alam yang ada, tidak berlebihan memang jika Soekarno menyampaikan konsep berdikari ini. Jika dikelola dengan amanah dan baik, saya sangat yakin negara ini mampu hidup mandiri tanpa ada ketergantungan pada negara lain. Dengan pengelolaan yang benar dan santun, saya sangat yakin rakyat Indonesia tak akan kekurangan apapun, hidup layak dan sejahtera. Tapi apa yang terjadi sekarang? Gagasan Soekarno kini tinggal kenangan saja. Negeri Berdikari itu kini telah runtuh, hancur berkeping – keping akibat tingkah polah pemimpinnya sendiri. Konyol.

Malthus, Impor dan Keruntuhan
Mengapa negeri berdikari runtuh? Penyebab utamanya tidak lain adalah meningkatnya skala impor di Indonesia. Liberalisasi perdagangan memang telah menjadi agenda penting beberapa organisasi perdagangan di dunia. Latar belakangnya yaitu tak ada negara yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, katanya. Adalah Thomas Robert Malthus dengan teorinya tentang populasi kependudukan yang kemudian mereka jadikan acuan dari latar belakang tadi. Menurut Malthus pertambahan pangan yang mengikuti deret hitung dimasa yang akan datang tidak akan mampu lagi untuk mengimbangi pertumbuhan manusia yang mengikuti deret ukur. Meski banyak kelemahan yang telah diungkap pada teori ini, mereka para pendukung liberalisasi perdagangan masih tetap dengan jalan pikirannya sendiri.

Menurut penulis, latar belakang dan teori Malthus yang mereka kemukakan itu hanya alibi. Alasan yang dibuat – buat oleh negara – negara maju yang sejatinya miskin untuk dapat mendapatkan komoditas dari negara yang mereka katakan masih berkembang. Mereka takut dan khawatir jika tanpa liberalisasi perdagangan rakyatnya akan kekurangan dan kelaparan. Artinya teori Malthus diatas itu sebenarnya hanya berlaku bagi mereka – mereka yang mengambil keputusan liberalisasi perdagangan tadi. Tentang deret hitung dan deret ukur tadi juga sebenarnya muncul dari hitung – hitungan di negara Barat sendiri, bukan untuk kita di negeri yang gemah ripah loh jinawi.

Globalisasialan dan Liberalisasialan
Lalu, mengapa kalau dikatakan teori Malthus tak berlaku di negeri ini, sekarang kok hampir semua komoditas penunjang kehidupan kita impor? Dari impor bawang, terigu, kedelai, garam hingga impor sapi. Dan baru - baru ini yang kita dengar dari media adalah masuknya bakso impor dari negara tetangga. Menurut penulis, kolaps-nya negeri berdikari ini banyak disebabkan oleh kesalahan manajemen atau salah urus dari para pemimpin negara dalam mengelola SDA (Sumber Daya Alam). Sangat mustahil kalau pengelolaan SDA dilakukan dengan benar negara ini akan melakukan impor. Negara ini telah dikenal sebagai pengimpor barus sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Rempah - rempahnya juga telah menjadi primadona orang - orang Eropa saat itu. 


Mungkin inilah fenomena yang boleh dikatakan sebagai ironi. Negeri ijo royo – royo yang kini meringis karena jebakan komoditas impor yang mencekik rakyatnya. Bukan masalah harga yang lebih murah setengah atau apa, tapi ini masalah masa depan perekonomian rakyat. Dengan jebolnya batas – batas ekonomi antar negara, keuntungan lebih akan dirasakan pada para pemilik modal. Nasib orang – orang biasa dengan modal yang biasa akan terjepit dan beberapa gulung tikar.

Jadi kesimpulannya, globalisasi dan liberalisasi bukanlah sesuatu yang perlu kita percayai sebagai hal yang baik. Kita perlu pelajari lagi, perlu ditelaah lagi, setidaknya sebagai bahan diskusi. Kita sudah diwarisi oleh nenek moyang kita sebuah kearifan lokal bernama akulturasi, sebuah proses pencernaan budaya luar yang masuk kedalam negeri untuk tidak langsung ditelan mentah – mentah, namun dicerna dan dipelajari dulu untuk disesuaikan dengan budaya setempat. Mudah – mudahan dengan tulisan yang singkat ini bangsa Indonesia lebih dapat memaknai liberalisasi dan globalisasi dengan lebih bijak, agar negara Berdikari yang telah runtuh ini bisa kita bangun kembali untuk menjadikan nusantara jaya seperti dulu kala. Amiiin ...

Rawabelong, 20 Oktober 2013
@asepsandro_del

Ditulis Oleh : Asep Irwan ~asepsandro

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Runtuhnya Negeri Berdikari yang ditulis oleh asepsandro yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 20:23

0 komentar:

Post a Comment